13 Film Tembus Satu Juta Penonton, JAFF Market 2026 Perkuat Ekosistem Industri Film Indonesia

Sebanyak 13 film Indonesia berhasil meraih lebih dari satu juta penonton pada semester pertama 2026. Di balik pencapaian tersebut, JAFF Market 2026 hadir untuk memperkuat kolaborasi dan membuka peluang baru bagi industri film nasional.

EVENTTRENDING

Redaksi Indo Katarsis

7/3/20263 min read



Jakarta, Indo Katarsis – Industri film Indonesia terus menunjukkan tren pertumbuhan yang menggembirakan sepanjang 2026. Di tengah perlambatan ekonomi yang masih dirasakan berbagai sektor, perfilman nasional justru mencatatkan capaian baru dengan semakin banyaknya film lokal yang berhasil menarik jutaan penonton. Momentum positif tersebut menjadi bukti bahwa industri film Indonesia tengah memasuki fase pertumbuhan yang lebih matang dan membutuhkan ekosistem yang semakin kuat untuk menopang keberlanjutannya.

Menjawab kebutuhan tersebut, Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) kembali menghadirkan JAFF Market 2026 Powered by Amar Bank, pasar film terbesar di Indonesia yang akan digelar pada 28–30 November 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta. Memasuki penyelenggaraan ketiga, JAFF Market tidak hanya menjadi ajang pertemuan insan perfilman, tetapi juga berfungsi sebagai pusat kolaborasi yang mempertemukan kreator, produser, investor, distributor, lembaga pembiayaan, hingga berbagai institusi pendukung industri.

Data dari Cinepoint dalam laporan Industry Trends and Performance in H1 2026 menunjukkan sebanyak 13 film Indonesia berhasil meraih lebih dari satu juta penonton sebelum semester pertama 2026 berakhir. Angka tersebut menjadi pencapaian tercepat dibandingkan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya dan memperlihatkan bahwa daya tarik film Indonesia di pasar domestik terus meningkat.

Pertumbuhan tersebut sekaligus menjadi sinyal bahwa industri film nasional kini tidak lagi hanya mengandalkan kuantitas produksi, tetapi juga mulai memperlihatkan peningkatan kualitas karya yang mampu menjangkau audiens lebih luas.

Namun, di balik capaian tersebut, tantangan baru mulai muncul. Semakin banyaknya proyek film membutuhkan dukungan pembiayaan yang memadai, akses distribusi yang lebih luas, serta ruang kolaborasi yang mampu mempertemukan pelaku industri dengan investor maupun mitra bisnis.

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menegaskan pemerintah terus mendukung penyelenggaraan JAFF Market sebagai bagian dari strategi memperkuat industri perfilman nasional.

"Kita tidak hanya ingin menjadi pasar bagi film-film dunia, tetapi juga memperkuat kapasitas produksi, distribusi, dan pembiayaan agar semakin banyak karya Indonesia yang mampu bersaing di tingkat internasional," kata Fadli Zon dalam Konferensi Pers JAFF Market 2026 Powered by Amar Bank.

Menurutnya, pertumbuhan industri film perlu diimbangi dengan kolaborasi lintas sektor agar ekosistem yang sedang berkembang dapat terus berkelanjutan.

Ia menilai JAFF Market menjadi ruang strategis yang mampu mempertemukan pelaku industri dengan berbagai pemangku kepentingan sehingga membuka lebih banyak peluang kerja sama, investasi, hingga distribusi karya Indonesia ke pasar global.

"Harapannya agar ekosistem perfilman Indonesia yang sedang tumbuh ini dapat berkembang secara inklusif dan berkelanjutan," ujarnya.

Market Director JAFF Market, Linda Gozali, mengatakan peningkatan jumlah film sukses menjadi indikator bahwa industri telah memasuki fase yang lebih dewasa. Karena itu, fokus pengembangan kini bergeser pada penguatan ekosistem bisnis yang mendukung setiap proyek film.

"Di sinilah JAFF Market mengambil peran sebagai market hub. Kami melihat semakin banyak proyek menemukan mitra pendanaan, talenta memperoleh peluang pengembangan, dan IP Indonesia menjangkau pasar yang lebih luas. Pengalaman dua tahun terakhir menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap platform industri seperti JAFF Market terus meningkat, seiring semakin besarnya minat investasi dan kolaborasi di sektor perfilman," ujar Linda.

Sebagai market hub, JAFF Market menghadirkan berbagai program yang dirancang untuk memperkuat seluruh rantai nilai industri. Program tersebut meliputi Film Industry Exhibitions, JAFF Future Project, Talent Day, Film Lab, Film & Market Conference, Market Screening, Company Showcase, Networking Events, hingga JAFF IP Connection.

Melalui program-program tersebut, sineas memiliki kesempatan untuk mempresentasikan proyek, mengikuti pengembangan kapasitas, bertemu calon investor, memperluas jaringan profesional, hingga membuka akses distribusi ke pasar internasional.

Festival Director JAFF, Ifa Isfansyah, menilai Indonesia memiliki modal besar berupa talenta kreatif dan kekayaan intellectual property (IP). Namun potensi tersebut memerlukan dukungan infrastruktur industri agar mampu berkembang menjadi kekuatan ekonomi.

"Indonesia memiliki talenta dan kekayaan intellectual property (IP) yang besar, namun masih membutuhkan infrastruktur industri yang mampu memperluas peluang kolaborasi dan pengembangan bisnis secara berkelanjutan," jelas Ifa.

Dukungan terhadap penguatan ekosistem perfilman juga datang dari sektor keuangan melalui keberlanjutan kemitraan dengan Amar Bank sebagai mitra utama JAFF Market 2026.
Presiden Direktur Amar Bank, Vishal Tulsian, mengatakan industri kreatif memerlukan model pembiayaan yang disesuaikan dengan karakteristik bisnisnya agar mampu tumbuh secara optimal.

"JAFF Market telah secara konsisten membuktikan perannya sebagai hub yang kuat dalam membangun ekosistem yang terintegrasi bagi industri film dan kreatif. Oleh karena itu, dukungan kami terhadap JAFF Market 2026 merupakan langkah untuk mendorong ekosistem multipemangku kepentingan, di mana kami mengajak para pembuat kebijakan dan pelaku industri untuk berkolaborasi dalam merancang layanan keuangan yang sesuai dengan kebutuhan industri kreatif. Dengan bergerak menuju solusi yang selaras dengan model bisnis unik industri ini, kita dapat memastikan bahwa potensi kreatif dapat sepenuhnya ditransformasikan menjadi nilai ekonomi yang berkelanjutan," kata Vishal.

Selain Amar Bank, JAFF Market juga menggandeng Badan Perfilman Indonesia (BPI) bersama sejumlah asosiasi industri seperti APROFI, IFDC, PILAR, INAFEd, ICS, dan ACI untuk memperkuat kapasitas industri dari hulu hingga hilir.

Tak hanya itu, JAFF Market terus memperluas jejaring internasional melalui keikutsertaan dalam berbagai forum industri dunia seperti Marché du Film Cannes, Asian Contents & Film Market Busan, serta Asia TV Forum & Market (ATF) Singapore. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan talenta dan intellectual property Indonesia kepada pasar global.

Dengan pertumbuhan jumlah penonton yang terus meningkat serta dukungan kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, lembaga keuangan, dan investor, JAFF Market 2026 diharapkan menjadi katalis yang memperkuat daya saing perfilman Indonesia. Lebih dari sekadar pasar film, JAFF Market kini menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun industri film nasional yang inklusif, berkelanjutan, dan mampu bersaing di tingkat internasional.
Kontributor: Sarah Limbeng
Editor: Permadani T.

Good News Ltd © 2022

Good News empowers the generation of tomorrow for a brighter future and hope for every individual.

Reframe your inbox

Subscribe to our newsletter and never miss a story.

We care about your data in our privacy policy.