Bisikan Desa Gringsing Hadirkan Kolaborasi Film Indonesia, Singapura, dan Malaysia
Film horor misteri Bisikan Desa Gringsing memadukan talenta Indonesia, teknologi Malaysia, dan kolaborasi produksi lintas negara Asia Tenggara.
FILM


Jakarta, Indo Katarsis— Film horor misteri Bisikan Desa Gringsing membawa kolaborasi kreatif lintas negara melalui produksi yang melibatkan Indonesia, Singapura, dan Malaysia. Film produksi Mandela Pictures dan Oceanus Media Global (OMG Studios) ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 24 September 2026.
Menjelang penayangannya, Bisikan Desa Gringsing menggelar press screening dan press conference di Jakarta pada 18 September 2026. Acara tersebut menjadi kesempatan bagi media untuk menyaksikan secara utuh perjalanan Hesti, karakter yang diperankan Aghniny Haque, ketika memasuki Desa Gringsing.
Hesti datang ke desa tersebut untuk mencari ayahnya yang hilang. Namun, pencarian itu justru mempertemukannya dengan berbagai kejadian misterius dan teror yang membuat warga Desa Gringsing tidak dapat meninggalkan tempat tersebut.
Sosok Fatimah (Fatmah Nahdi), arwah yang menghantui desa, menjadi salah satu sumber teror utama. Fatimah mengurung seluruh warga di dalam desa dan membunuh siapa saja yang mencoba keluar.
Cerita kemudian berkembang ketika Hesti menemukan bahwa setiap karakter menyimpan bagian dari rahasia Desa Gringsing. Semakin banyak jawaban yang ia temukan, semakin dalam pula dirinya masuk ke dalam misteri. Perjalanan tersebut juga berkaitan dengan trauma masa lalu Hesti.
Film ini ditulis dan disutradarai oleh Ivander Tedjasukmana. Menurut Manoj Samtani, Produser Mandela Pictures, sejak awal tim ingin membuat film yang dapat membuat penonton terus mengikuti perjalanan Hesti dalam mencari jawaban.
“Sejak awal kami ingin Bisikan Desa Gringsing menjadi pengalaman sinematik di mana penonton terus terlibat dengan ceritanya. Hesti datang ke desa Gringsing untuk mencari satu jawaban, tetapi perjalanannya justru membuka begitu banyak pertanyaan lain. Sekarang filmnya sudah utuh dan akhirnya bisa kami perlihatkan kepada teman-teman media. Kami berharap pengalaman mencari jawaban bersama Hesti inilah yang nantinya juga akan membuat penonton terus membicarakan film ini setelah keluar dari bioskop,” ujar Manoj Samtani.
Selain cerita, kolaborasi lintas negara juga terlihat dari teknologi dan fasilitas produksi yang digunakan. Bisikan Desa Gringsing menjadi film panjang horor Indonesia pertama yang memanfaatkan teknologi virtual production.
Proses produksinya memanfaatkan studio virtual production milik OMG Studios yang berada di Iskandar Malaysia Studios (IMS), Johor, Malaysia. Teknologi tersebut memungkinkan tim menciptakan lingkungan digital fotorealistik secara real time melalui LED volumetric stage.
Lingkungan digital kemudian dipadukan dengan real set untuk menciptakan dunia Desa Gringsing. Pendekatan tersebut digunakan untuk menghadirkan jalanan berkabut, bangunan desa yang mengancam serta berbagai peristiwa supernatural.
Nick GC Tan, Founder dan CEO Oceanus Media Global (OMG Studios), menyebut film tersebut menjadi contoh kolaborasi antara teknologi, talenta, dan kreativitas dari beberapa negara di Asia Tenggara.
“Bisikan Desa Gringsing menunjukkan bagaimana teknologi dapat memberikan hasil terbaik ketika digunakan untuk mendukung cerita. Dengan memadukan virtual production, real set, serta talenta kreatif dari Indonesia, Singapura, dan Malaysia, kami bersama-sama membangun Desa Gringsing sebagai satu dunia sinematik yang utuh. Kami bangga menjadi bagian dari kolaborasi ini dan tidak sabar untuk akhirnya membawa pengalaman Desa Gringsing kepada penonton di layar lebar,” ujar Nick GC Tan.
Kolaborasi tersebut bukan tanpa tantangan. Karena pengambilan gambar di studio virtual production dilakukan lebih dahulu sebelum dilanjutkan di real set, tim harus memastikan detail visual kedua lingkungan tetap konsisten.
Pencahayaan, komposisi, ruang, blocking dan pergerakan pemain perlu dirancang secara presisi. Para aktor juga harus menyesuaikan permainan mereka ketika berpindah dari lingkungan virtual ke set nyata.
Ivander Tedjasukmana mengatakan tantangan tersebut menjadi bagian penting dari proses produksi.
“Buat saya, tantangan menariknya justru bagaimana teknologi dan real set akhirnya tidak terasa sebagai dua dunia yang berbeda ketika menjadi satu film. Karena kami syuting di studio virtual production lebih dahulu, banyak hal harus sudah dipikirkan sejak awal agar ketika dilanjutkan di real set, visual, blocking, sampai atmosfernya tetap terasa menyambung. Teknologi memberi kami kemungkinan baru, tetapi pada akhirnya semuanya harus bekerja untuk membuat penonton percaya bahwa Desa Gringsing benar-benar satu tempat yang utuh,” ujar Ivander.
Pengalaman serupa dirasakan Aghniny Haque. Sebagai pemeran Hesti, ia harus memastikan karakter yang dimainkannya tetap berada dalam dunia yang sama meskipun proses pengambilan gambar berlangsung di lingkungan berbeda.
“Sebagai pemain, saya harus percaya bahwa semua yang dialami Hesti benar-benar terjadi di satu dunia yang sama, meskipun proses syutingnya dilakukan dengan pendekatan yang berbeda. Saat di studio virtual production, lingkungan Desa Gringsing sudah bisa kami lihat langsung di layar LED, sementara ketika berpindah ke real set, tantangannya adalah menjaga kembali emosi dan pengalaman Hesti agar tetap berkesinambungan. Buat saya ini pengalaman baru yang menarik, karena teknologi akhirnya tetap harus bertemu dengan hal paling mendasar dalam akting, yaitu bagaimana kita percaya pada situasi dan karakter yang kita jalani,” tutur Aghniny.
Untuk memperkuat atmosfer film, teknologi virtual production dipadukan dengan sinematografi, tata artistik, tata suara, musik, serta permainan para pemain. Lagu “Perjalanan Menawar Racun” karya Kunto Aji turut menjadi bagian dari perjalanan emosional film.
Sebelum tayang di bioskop, Bisikan Desa Gringsing telah menggelar special screening pada 12–13 September 2026 di sejumlah bioskop. Film talks juga digelar di sejumlah sekolah kejuruan dan universitas dengan pembahasan mengenai pengalaman produksi serta pemanfaatan teknologi virtual production.
Film ini dibintangi Aghniny Haque, Fatmah Nahdi, Surya Saputra, Kiki Narendra, Iskak Khivano, Hesti Putri, Iyang Darmawan, Akun Gege, Swetajaloe, Nina Tamam, Mian Tiara, Nizar Umar, Azkya Mahira, Shaqueena Medina Lukman, dan Nazhira Rizka.
Setelah tayang di Indonesia mulai 24 September 2026, Bisikan Desa Gringsing dijadwalkan melanjutkan perilisan ke Malaysia, Singapura, Turki, dan Azerbaijan. Kehadiran film ini sekaligus mempertemukan cerita dan talenta Indonesia dengan teknologi, infrastruktur, serta kolaborasi kreatif lintas negara di Asia Tenggara.
Kontributor: Sarah Limbeng
Editor: Permadani T.
Good News Ltd © 2022
Good News empowers the generation of tomorrow for a brighter future and hope for every individual.
Reframe your inbox
Subscribe to our newsletter and never miss a story.
We care about your data in our privacy policy.
