Dari Berlinale ke Bioskop Nasional, Ghost in the Cell Perkuat Posisi Film Indonesia
Tak hanya tayang di Indonesia, Ghost in the Cell juga akan diputar di negara-negara berbahasa Jerman setelah diakuisisi Plaion Pictures.
FILM


Indo Katarsis — Film Ghost in the Cell karya Joko Anwar resmi diumumkan akan tayang di bioskop Indonesia mulai 16 April 2026. Pengumuman ini datang setelah film tersebut terpilih dalam program Forum Berlin International Film Festival (Berlinale) 2026, sebuah pencapaian yang menegaskan kualitas dan daya saing film Indonesia di kancah global.
Berlinale dikenal sebagai festival yang memberi perhatian besar pada film dengan pendekatan artistik dan sosial. Masuknya Ghost in the Cell ke program Forum menempatkan film ini dalam jajaran karya internasional yang berani mengangkat isu kemanusiaan. Hal ini menjadi nilai tambah sebelum film tersebut diputar secara luas di Indonesia.
Come and See Pictures menjadikan Ghost in the Cell sebagai rilisan bioskop pertamanya pada 2026. Rumah produksi ini sebelumnya sukses dengan berbagai proyek film dan serial, baik di dalam maupun luar negeri. Film terbaru ini kembali menegaskan identitas Come and See Pictures sebagai produsen karya dengan visi kuat.
World premiere Ghost in the Cell dijadwalkan berlangsung di Berlin pada Februari 2026. Momentum ini menjadi pintu masuk penting sebelum film dirilis secara komersial. Selain memperkenalkan film ke audiens internasional, ajang ini juga membuka peluang kerja sama distribusi yang lebih luas.
Joko Anwar menyampaikan antusiasmenya terhadap perilisan film ini. Ia menegaskan bahwa Ghost in the Cell digarap dengan standar produksi tinggi bersama kru dan aktor berkualitas. Menurutnya, film ini merepresentasikan kerja kolektif yang solid dari seluruh tim.
Film ini mengangkat cerita tentang sebuah penjara yang sarat dengan kekerasan dan ketimpangan. Melalui balutan komedi-horor, Ghost in the Cell menyampaikan kritik sosial tentang sistem dan kekuasaan. Pendekatan ini membuat film tersebut relevan sekaligus menghibur.
Daftar pemeran film ini mencakup nama-nama besar lintas generasi. Abimana Aryasatya, Bront Palarae, Morgan Oey, hingga Aming dan Kiki Narendra turut memperkuat karakter cerita. Kehadiran aktor-aktor tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi penonton.
Langkah internasional Ghost in the Cell semakin nyata setelah film ini diakuisisi oleh Plaion Pictures dari Jerman. Distributor tersebut dikenal luas karena mendistribusikan film-film peraih penghargaan dunia. Dengan akuisisi ini, film Indonesia kembali mendapat ruang di pasar Eropa.
Produser Tia Hasibuan menyebut kerja sama ini sebagai pencapaian strategis. Ia berharap reputasi Plaion Pictures dapat membantu Ghost in the Cell menjangkau audiens yang lebih luas. Optimisme tersebut sejalan dengan meningkatnya minat dunia terhadap film Asia.
Film ini diproduksi oleh Come and See Pictures bersama RAPI Films dan Legacy Pictures. Untuk distribusi global, Barunson E&A ditunjuk sebagai sales agent. Sinergi ini memperlihatkan keseriusan tim dalam membawa film ke level internasional.
Dengan jadwal tayang April 2026, Ghost in the Cell menjadi salah satu film Indonesia yang paling dinanti. Film ini tidak hanya menawarkan hiburan, tetapi juga refleksi sosial yang relevan dengan realitas masyarakat.
Kontributor: Sarah Limbeng
Penulis dan Editor: Permadani T.
