Dihadiri Raihaanun hingga Nikita Mirzani, Gala Premiere Beautiful Pain Jadi Ruang Suara Perempuan

Gala Premiere Beautiful Pain di Epicentrum XXI menghadirkan pesan kuat tentang keberanian perempuan melawan trauma. Instalasi kupu-kupu berisi curahan hati anonim turut menjadi simbol perjuangan untuk bangkit dan menemukan harapan.

FILM

Redaksi Indo Katarsis

10/19/20264 min read


Jakarta, Indo Katarsis — Gala Premiere film Beautiful Pain di Epicentrum XXI, Jakarta, pada 15 Oktober 2026, menghadirkan lebih dari sekadar perayaan karya sinema. Melalui kisah perempuan yang berjuang keluar dari hubungan toxic, acara ini menjadi momentum untuk mengangkat persoalan kekerasan seksual, tekanan sosial setelah perceraian, dan pentingnya empati terhadap korban.

Film produksi Dapur Film tersebut mempertemukan sejumlah nama di industri perfilman Indonesia. Hanung Bramantyo bertindak sebagai produser, Dmaz Brodjonegoro sebagai sutradara, Titien Wattimena sebagai penulis skenario, dan Nikita Mirzani sebagai Executive Producer.

Jajaran pemeran yang hadir dalam proyek ini meliputi Raihaanun, Baim Wong, Tarra Budiman, Anantya Kirana, Evano Zyan, Jajang C. Noer, Dimas Aditya, Siti Fauziah, Berlliana Lovel, dan Anastasia Herzigova.

Di balik peluncurannya, Beautiful Pain membawa pesan mengenai perjuangan perempuan untuk merebut kembali harga diri setelah menghadapi hubungan yang menyakitkan dan stigma masyarakat.

Gala Premiere tersebut juga menjadi ruang refleksi bagi pengalaman perempuan yang selama ini kerap tidak mendapatkan tempat untuk didengar.
Raihaanun Mendalami Perjuangan Niken

Dalam Beautiful Pain, Raihaanun memerankan Niken, seorang perempuan yang memilih meninggalkan pernikahan toxic bersama suaminya, Dirga, yang diperankan Baim Wong.
Niken mengambil keputusan tersebut demi menyelamatkan kesehatan mentalnya dan menjaga masa depan kedua anaknya. Ia rela meninggalkan kenyamanan materi, kembali ke rumah ibunya, dan memulai kehidupan dari titik nol.

Namun, jalan menuju kehidupan yang lebih baik tidak berlangsung mudah. Ketika berusaha mencari nafkah secara mandiri dan memperjuangkan hak asuh anak, Niken justru menghadapi pelecehan seksual serta fitnah.
Lingkungan yang seharusnya dapat memberikan dukungan malah kerap meragukan integritasnya dan menuntutnya untuk diam demi menjaga nama baik.

Situasi itu membuat Niken harus menghadapi dua persoalan sekaligus. Ia berusaha membangun kembali kehidupannya setelah perceraian, tetapi juga harus melawan stigma yang membuat pengalamannya semakin sulit untuk diungkapkan.

Pada akhirnya, Niken memilih untuk berbicara dan melawan. Ia berusaha mempertahankan martabat dirinya sekaligus memperjuangkan hak anak-anaknya.

Raihaanun mengungkapkan bahwa mendalami karakter tersebut memberikan beban emosional tersendiri. Ia melihat Niken sebagai gambaran perempuan yang berusaha bangkit dari pengalaman menyakitkan, tetapi kembali menghadapi ujian ketika ingin membangun kehidupan baru.

"Setiap orang, setiap wanita, pasti pernah merasakan jatuh dan terjebak dalam jurang yang paling dalam. Niken adalah gambaran nyata wanita-wanita di luar sana yang kuat dan mampu melepaskan masa lalunya yang toxic. Tapi yang paling menyakitkan adalah ketika seorang perempuan sudah berusaha bangkit, ia malah kembali diuji dengan pelecehan dan fitnah di saat orang sekitar justru menyalahkannya. Menjadi ibu tunggal yang berani bicara dan melawan demi anak itu butuh keberanian yang luar biasa berdarah-darah. Aku harap kalian yang sedang mengalami apa yang dialami Niken bisa melihat film ini dan menyadari bahwa kalian tidak sendiri, kalian tidak salah, dan kalian sangat pantas untuk mendapatkan ketenangan serta kebahagiaan," ungkap Raihaanun.

Pernyataan tersebut mempertegas pesan yang ingin disampaikan film ini: perempuan yang mengalami kekerasan atau pelecehan tidak seharusnya menghadapi penghakiman ketika berusaha memperjuangkan kehidupannya.
Debut Penyutradaraan Dmaz Brodjonegoro

Beautiful Pain juga menjadi penanda debut penyutradaraan layar lebar bagi Dmaz Brodjonegoro. Bersama Titien Wattimena, Dmaz mengembangkan cerita yang menyoroti pengalaman perempuan dalam menghadapi hubungan toxic, pelecehan seksual, dan tekanan masyarakat.

Dmaz menegaskan bahwa film tersebut dibuat bukan hanya untuk memberikan hiburan kepada penonton. Ia berharap karya ini dapat membuka percakapan tentang persoalan yang selama ini sering dibungkam.

"Dari awal saya sangat ingin film ini tidak hanya menjadi sekadar tontonan hiburan, namun dapat memantik perbincangan-perbincangan penting yang selama ini dibungkam di masyarakat kita. Bagaimana perempuan sering kali tidak punya ruang aman untuk bersuara saat disakiti, dan betapa beratnya beban seorang ibu yang berjuang sendirian. Saya harap kita semua bisa berusaha untuk menjadi orang yang lebih berempati dan lebih baik setelah menonton Beautiful Pain," tegas Dmaz.

Pernyataan tersebut menunjukkan pendekatan kemanusiaan yang menjadi salah satu fondasi cerita. Melalui perjalanan Niken, film ini berusaha mengajak penonton melihat bahwa persoalan korban tidak dapat dipisahkan dari respons lingkungan di sekitarnya.

Ketika korban tidak memperoleh ruang aman, proses untuk berbicara dan memulihkan diri dapat menjadi semakin sulit.
Karena itu, film ini mendorong tumbuhnya empati terhadap perempuan yang berusaha keluar dari situasi yang merugikan dirinya.
Hanung Bramantyo Apresiasi Visi Kemanusiaan Film

Sebagai produser, Hanung Bramantyo menyampaikan apresiasinya terhadap pendekatan yang dibawa Dmaz dalam menggarap Beautiful Pain. Menurut Hanung, visi kemanusiaan sang sutradara terlihat sejak proses pengembangan cerita bersama Titien Wattimena.

"Saat saya mengembangkan cerita ini bersama Dmaz dan Mba Titin Wattimena, saya sudah bisa melihat kalau Dmaz adalah seorang sutradara yang punya visi kemanusiaan yang kuat, dan saya sangat bangga bisa mendukung visinya tersebut," puji Hanung Bramantyo.

Dukungan tersebut menjadi bagian dari proses menghadirkan cerita yang tidak hanya menyoroti konflik personal, tetapi juga mengangkat persoalan sosial yang berkaitan dengan pengalaman perempuan.

Sementara itu, Executive Producer Nikita Mirzani menegaskan bahwa film tersebut bukan cerita yang hanya berpusat pada dirinya.

“Ini bukan film tentang Nikita Mirzani, tapi ini adalah film tentang semua wanita Indonesia, yang berani berjuang, berani mengambil risiko, berani melangkah lebih jauh lagi ke depan.”
Pesan itu memperluas makna cerita Niken sebagai representasi perjuangan perempuan yang berusaha mengambil keputusan bagi kehidupannya sendiri.
Instalasi Kupu-Kupu Hadirkan Ruang Katarsis

Salah satu elemen yang memperkuat suasana Gala Premiere adalah instalasi puluhan kertas berbentuk kupu-kupu di lobi Epicentrum XXI.
Kupu-kupu tersebut bukan sekadar ornamen. Instalasi itu memuat curahan hati anonim publik tentang berbagai pengalaman emosional, termasuk trauma perselingkuhan, kekerasan yang diikuti penghakiman lingkungan, rasa bersalah seorang ibu tunggal, dan afirmasi untuk berani sembuh.

Kehadiran instalasi tersebut memberikan dimensi lain pada acara peluncuran film. Penonton tidak hanya diperkenalkan pada cerita yang akan mereka saksikan di layar, tetapi juga diajak merenungkan pengalaman dan perasaan yang mungkin dialami orang-orang di sekitarnya.
Kupu-kupu dipilih sebagai simbol metamorfosis. Perubahan bentuknya menggambarkan kemungkinan untuk tumbuh dan melangkah ke fase kehidupan baru setelah melewati masa sulit.

Simbol tersebut sejalan dengan pesan Every pain has a beautiful side, yang mengajak masyarakat melihat bahwa pengalaman menyakitkan tidak harus menghapus kesempatan seseorang untuk menemukan harapan.

Melalui instalasi tersebut, Beautiful Pain berupaya menjadikan Gala Premiere sebagai ruang refleksi tentang trauma, keberanian, dan pemulihan.
Beautiful Pain Tayang 22 Oktober 2026

Selain Raihaanun sebagai Niken dan Baim Wong sebagai Dirga, film ini turut dibintangi Tarra Budiman sebagai Randy, Anantya Kirana sebagai Naia, Evano Zyan sebagai Dio, Jajang C. Noer sebagai Rahmania, Dimas Aditya sebagai Gerry, Siti Fauziah sebagai Sekarsari, Berlliana Lovel sebagai Diana, serta Anastasia Herzigova sebagai Jane.

Film Beautiful Pain mengusung pesan moral Fight the Trauma dan dijadwalkan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 22 Oktober 2026.

Informasi terbaru mengenai jadwal dan perkembangan film dapat diikuti melalui akun media sosial resmi @filmbeautifulpain dan @dapurfilm.

Melalui perpaduan cerita, penampilan para pemeran, dan pesan sosialnya, Beautiful Pain ingin mengajak penonton melihat keberanian perempuan dari perspektif yang lebih luas.
Meninggalkan hubungan toxic bukan berarti seseorang gagal mempertahankan rumah tangga. Dalam cerita Niken, keputusan tersebut justru menjadi langkah untuk melindungi kesehatan mental, memperjuangkan masa depan anak, dan merebut kembali harga diri.

Film ini juga mengingatkan masyarakat bahwa keberanian korban untuk bersuara perlu diikuti dengan empati dan dukungan. Sebab, menciptakan ruang aman bukan hanya tanggung jawab mereka yang mengalami kekerasan, tetapi juga lingkungan yang mendengarkan dan merespons pengalaman tersebut.
Kontributor: Sarah Limbeng
Editor: Permadani T.

Good News Ltd © 2022

Good News empowers the generation of tomorrow for a brighter future and hope for every individual.

Reframe your inbox

Subscribe to our newsletter and never miss a story.

We care about your data in our privacy policy.