Film Pasukan 1000 Janda Siap Tayang 12 November 2026, Hadirkan Atiqah Hasiholan sebagai Laksamana Malahayati

Film Pasukan 1000 Janda siap tayang di bioskop Indonesia pada 12 November 2026. Dibintangi Atiqah Hasiholan, Cut Mini, dan Tasha Siahaan, film historical fantasy action ini mengangkat perjuangan Laksamana Malahayati bersama pasukan Inong Balee melawan penjajah Belanda.

FILM

Redaksi Indo Katarsis

9/30/20264 min read



Jakarta, Indo Katarsis — Film Pasukan 1000 Janda bersiap menyapa penonton bioskop Indonesia pada 12 November 2026. Film garapan sutradara Archie Hekagery bersama rumah produksi Manara Films ini mengusung genre historical fantasy action dengan mengangkat kisah Laksamana Malahayati dan pasukan perempuan Inong Balee dari Aceh.

Menjelang penayangannya, film tersebut merilis trailer dan poster yang memperlihatkan gambaran pertempuran epik di laut dan daratan Aceh. Para perempuan bersenjatakan rencong dan menguasai ilmu bela diri diperlihatkan menghadapi armada kapal perang Belanda yang dilengkapi meriam.

Melalui trailer tersebut, Pasukan 1000 Janda memperkenalkan perpaduan cerita sejarah, fantasi, dan aksi. Film ini membawa penonton ke dunia Aceh pada masa lampau, ketika ancaman penjajah memaksa masyarakat mempertahankan tanah kelahiran mereka.
Salah satu daya tarik film ini terletak pada penggambaran perempuan sebagai tokoh utama perjuangan. Para perempuan yang kehilangan suami dan keluarga akibat peperangan memilih bangkit dan membentuk pasukan untuk menghadapi musuh.

Kisah tersebut berpusat pada Malahayati, pemimpin perempuan yang memiliki peran penting dalam perjuangan menghadapi ancaman dari luar. Karakternya diperankan oleh Atiqah Hasiholan, sementara pasukan Inong Balee diisi oleh sejumlah aktris Indonesia.

Sinopsis Pasukan 1000 Janda: Ancaman Belanda di Selat Malaka

Cerita Pasukan 1000 Janda mengambil latar Selat Malaka pada 1599. Dalam sinopsis resmi, kisah diawali dengan pertempuran melawan Portugis beberapa tahun sebelum peristiwa utama.

Saat itu, armada Kesultanan Aceh Darussalam berada di bawah komando Laksamana Malahayati. Dengan keberanian dan kecerdikannya, Malahayati berhasil menghancurkan armada Portugis dan mengusir mereka dari perairan Aceh.

Namun, kemenangan tersebut tidak diikuti kejelasan mengenai keberadaan sang laksamana. Malahayati menghilang tanpa jejak, meninggalkan pertanyaan mengenai siapa yang akan memimpin perjuangan ketika ancaman berikutnya datang.

Pada 1599, armada Belanda berlayar menuju Selat Malaka untuk merebut jalur perdagangan yang menjadi bagian penting bagi Nusantara. Pasukan tersebut dipimpin Cornelis, seorang admiral yang digambarkan kejam dan tidak mengenal ampun.

Kedatangan Belanda membawa penderitaan bagi masyarakat Aceh. Desa-desa dibakar, rakyat diburu, dan para lelaki tewas dalam pertempuran. Banyak perempuan kehilangan suami serta anggota keluarga.

Ketika harapan masyarakat semakin menipis dan tidak ada lagi pasukan yang dinilai mampu menghadang Belanda, para perempuan memutuskan bangkit. Mereka membentuk pasukan yang belum pernah ada sebelumnya, dengan tujuan mempertahankan rumah dan tanah yang mereka cintai.

Mereka kemudian bersiap menghadapi pasukan Belanda yang memiliki persenjataan lebih kuat. Pertempuran berlangsung dari laut hingga daratan Aceh, menghadirkan perjuangan yang menjadi inti cerita film ini.

Sinopsis tersebut juga menyisakan pertanyaan mengenai Malahayati. Ketika sejarah menyebut sang laksamana telah menghilang, muncul kemungkinan bahwa ia belum benar-benar pergi.
Pertanyaan itu menjadi salah satu unsur yang membangun rasa penasaran terhadap perjalanan cerita Pasukan 1000 Janda.

Archie Hekagery Hadirkan Sejarah dalam Skala Sinematik

Sutradara Archie Hekagery ingin memperkenalkan kisah Malahayati melalui pendekatan film aksi yang epik. Baginya, sejarah Indonesia memiliki cerita yang dapat dikembangkan menjadi tontonan dengan skala besar.

“Lewat film Pasukan 1000 Janda, saya ingin membuat penonton merasakan bagaimana kalau kisah Laksamana Malahayati hadir sebagai sebuah action movie yang epik dan sinematik. Sejarah Indonesia memiliki cerita sebesar film action,” ujar sutradara Archie Hekagery.

Pendekatan tersebut diterapkan melalui penggambaran pertempuran laut, pertarungan pedang, dan konfrontasi antara pasukan perempuan dengan armada kapal perang Belanda.

Film ini juga berupaya membangun pengalaman visual yang membawa penonton masuk ke dalam suasana Aceh pada masa lampau. Trailer menampilkan pertempuran di atas kapal dan di tengah ombak laut, sementara poster memperkuat gambaran Malahayati bersama pasukan Inong Balee.

Dengan menggabungkan unsur sejarah, fantasi, dan aksi, film ini menyajikan perjuangan perempuan dalam format yang dirancang untuk memberikan pengalaman sinematik sekaligus hiburan.

Daftar Pemain Pasukan 1000 Janda

Atiqah Hasiholan menjadi pemeran utama sebagai Laksamana Malahayati. Sosok ini digambarkan sebagai pemimpin yang perkasa dan berani dalam menghadapi ancaman terhadap Aceh.

Sementara itu, pasukan Inong Balee diperankan sejumlah aktris, termasuk Cut Mini, Tasha Siahaan, Fergie Brittany, dan Ully Triani.

Tasha Siahaan memerankan Dahlia, salah satu anggota pasukan tersebut. Untuk mendalami perannya, Tasha menjalani pembelajaran dialek Aceh, koreografi aksi, serta sejarah perjuangan perempuan.

Ia menilai semangat yang dihadirkan dalam film masih relevan dengan keadaan saat ini.

“Bagiku film Pasukan 1000 Janda sangat relevan dengan kondisi saat ini. Sampai sekarang kita masih sering melihat banyak kelompok perempuan yang berani bersuara dan melawan saat tanah kelahiran dan tanah tinggalnya terancam. Semangat juang para perempuan ini yang akan menghidupkan dan memberikan nilai lebih dari kisah historical fantasy action di layar lebar,” ujar Tasha Siahaan.

Selain kedua aktris tersebut, film ini turut dibintangi Emil Kusumo, Vincent Verhaag, Hans de Kraker, Dafina Jamasir, Syaura Salsabila, Muzakki Ramdhan, dan Ron Smoorenburg.
Ron Smoorenburg merupakan aktor laga internasional asal Belanda yang pernah menjadi lawan main Jackie Chan dalam film Who Am I?. Kehadirannya melengkapi jajaran pemain yang terlibat dalam film tersebut.

Atiqah Hasiholan Bicara tentang Relevansi Malahayati

Bagi Atiqah Hasiholan, memerankan Malahayati berarti membawakan karakter yang memiliki banyak sisi. Malahayati bukan hanya seorang pemimpin militer, tetapi juga perempuan yang menjalani peran sebagai ibu dan istri.

Atiqah melihat keberanian perempuan untuk memimpin dan menentukan pilihan hidup sebagai pesan yang tetap relevan meskipun ratusan tahun telah berlalu.

“400 tahun berlalu. Perempuan tetap punya alasan untuk berdiri dan memimpin. Malahayati adalah seorang laksamana, warrior, namun juga seorang perempuan, ibu, dan istri. Kompleksitas itulah yang membuat sosoknya menarik untuk dibawa ke layar lebar, dan perannya sebagai perempuan yang serba bisa melakukan apapun serta berjuang meski harus mengalami rasa kehilangan itulah yang juga tetap relevan dengan para perempuan sekarang,” ujar Atiqah Hasiholan.

Pandangan tersebut sejalan dengan cerita utama film yang menempatkan kehilangan sebagai titik awal perjuangan. Para perempuan dalam kisah ini menghadapi situasi sulit, tetapi tidak membiarkan penderitaan menghapus tekad mereka untuk mempertahankan tanah kelahiran.

Film ini disutradarai Archie Hekagery dan diproduseri Yuda Wirafianto. Mifta Nur Rizki bertindak sebagai ko-produser, sedangkan Bunga Mentari menjadi produser eksekutif.

Melalui Pasukan 1000 Janda, Manara Films menghadirkan cerita perjuangan perempuan Aceh dalam format historical fantasy action. Film ini menggabungkan kisah Malahayati dan Inong Balee dengan pertempuran kolosal serta pesan mengenai keberanian menghadapi kehilangan.

Bagi penonton yang ingin menyaksikan kisah perjuangan tersebut di layar lebar, Pasukan 1000 Janda dijadwalkan tayang mulai 12 November 2026 di bioskop Indonesia.

Informasi terbaru mengenai film dapat diikuti melalui akun Instagram @pasukan1000janda dan @manara.studios.
Kontributor: Sarah Limbeng
Editor: Permadani T.

Good News Ltd © 2022

Good News empowers the generation of tomorrow for a brighter future and hope for every individual.

Reframe your inbox

Subscribe to our newsletter and never miss a story.

We care about your data in our privacy policy.