Joko Anwar Kembali ke Berlinale Lewat “Ghost in the Cell”, Siap World Premiere Februari 2026
FILM


Indo Katarsis — Film Ghost in the Cell menandai kembalinya Joko Anwar ke festival film internasional bergengsi. Karya terbarunya ini resmi terpilih dalam Berlin International Film Festival (Berlinale) 2026 dan akan diputar dalam section Forum, kategori yang dikenal selektif dan berfokus pada film-film dengan visi sinematik kuat.
Forum di Berlinale memiliki reputasi sebagai ruang bagi karya-karya yang berani dan reflektif. Film-film yang terpilih tidak hanya dinilai dari kekuatan naratif, tetapi juga dari keberanian bentuk serta ketajaman membaca realitas sosial dan politik. Terpilihnya Ghost in the Cell menegaskan posisi film ini sebagai karya genre yang memiliki nilai artistik dan gagasan mendalam.
Berlinale Forum juga dikenal memberi tempat bagi film-film genre dengan bobot sosial yang kuat. Beberapa film besar seperti Snowpiercer dan Exhuma pernah diputar dalam program Forum, menunjukkan bahwa kategori ini terbuka bagi film dengan skala luas namun tetap memiliki identitas artistik yang kuat.
Dalam pernyataan resminya, programmer Berlinale Barbara Wurm menyebut bahwa film-film di Forum adalah karya sineas yang memahami dampak sosial sinema terhadap masyarakat. Film dipandang sebagai medium yang mampu membentuk cara pandang terhadap sejarah, konflik, solidaritas, hingga masa depan bersama
Joko Anwar mengungkapkan kebanggaannya atas terpilihnya Ghost in the Cell. Ia menilai Forum sebagai section yang selalu menaruh perhatian besar pada relevansi sosial dan politik dari film-film yang dipilih. Hal ini sejalan dengan tema film yang mengangkat kritik terhadap sistem dan kekuasaan.
Ghost in the Cell akan diputar dalam rangkaian Berlinale pada 12–22 Februari 2026 dan menjalani world premiere di Delphi Filmpalast am Zoo, Berlin. Penayangan ini menjadi pintu masuk film ke pasar internasional sekaligus ajang perkenalan dengan komunitas sinema global.
Berlatar di penjara Indonesia, film ini memadukan horor dengan kritik sosial yang tajam. Cerita berfokus pada sistem yang sarat kekerasan dan ketidakadilan, sekaligus memperlihatkan bagaimana kekuasaan dapat terus bertahan bahkan di ruang yang seharusnya menegakkan hukum. Pendekatan ini membuat Ghost in the Cell tidak hanya menegangkan, tetapi juga reflektif.
Produser Tia Hasibuan menyebut pencapaian ini sebagai sinyal positif menjelang penayangan film di Indonesia. Ia optimistis Ghost in the Cell akan diterima baik oleh penonton karena kekuatan cerita, bahasa sinema, dan gagasan yang dibawanya.
Diproduksi oleh Come and See Pictures bersama RAPI Films dan Legacy Pictures, serta didukung Barunson E&A sebagai sales agent internasional, Ghost in the Cell dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada tahun 2026.
Kontributor: Sarah Limbeng
Penulis dan Editor: Permadani T.
