Kisah Duka Remaja dan AI dalam Film Esok Tanpa Ibu (Mothernet) Siap Tayang Januari 2026

Duka, remaja, dan kecerdasan buatan bertemu dalam satu kisah keluarga yang intim. Esok Tanpa Ibu (Mothernet) mengajak penonton bertanya: sejauh mana teknologi bisa menggantikan kehadiran manusia?

FILM

Redaksi Indo Katarsis

1/20/20262 min read

Indo Katarsis — Film Esok Tanpa Ibu (Mothernet) hadir sebagai salah satu film keluarga paling dinanti di awal 2026. Tayang mulai 22 Januari, film ini menawarkan kisah emosional tentang kehilangan, teknologi, dan relasi keluarga. Cerita yang diangkat terasa dekat dengan realitas masyarakat modern.

Diproduksi oleh BASE Entertainment bersama Beacon Film dan Refinery Media, film ini didukung oleh Singapore Film Commission dan IMDA. Deretan pemain ternama seperti Dian Sastrowardoyo, Ringgo Agus Rahman, dan Ali Fikry memperkuat kualitas aktingnya. Kolaborasi lintas negara juga menjadi nilai tambah dalam produksi film ini.

Ho Wi-ding didapuk sebagai sutradara dengan gaya penceritaan yang intim dan reflektif. Naskah ditulis oleh Gina S. Noer, Diva Apresya, dan Melarissa Sjarief, menghadirkan dialog yang sederhana namun sarat makna. Dian Sastrowardoyo turut terlibat sebagai produser bersama Shanty Harmayn.

Cerita film ini mengikuti perjalanan Rama atau Cimot, seorang remaja yang harus menghadapi kenyataan pahit ketika ibunya mengalami koma. Kehilangan tersebut membuat dinamika keluarga berubah drastis, terutama hubungannya dengan sang ayah. Kecanggungan dan jarak emosional menjadi konflik utama dalam cerita.

Dalam upaya mengatasi kesepian, Cimot menggunakan i-BU, sebuah kecerdasan buatan yang dirancang untuk meniru sosok ibunya. AI ini mampu memahami perasaan, mengingat kebiasaan, dan menemani Cimot dalam kesehariannya. Kehadiran i-BU menjadi simbol usaha manusia mencari kenyamanan di tengah kehilangan.

Shanty Harmayn mengatakan film ini lahir dari keinginan menghadirkan cerita yang relevan dengan kehidupan saat ini. “Kami berharap kisah yang sangat personal ini dapat beresonansi secara universal dengan penontonnya,” ujarnya. Teknologi AI dijadikan jembatan untuk membicarakan duka secara lebih kontekstual.

Dian Sastrowardoyo melihat film ini sebagai refleksi hubungan manusia di era digital. “Ini adalah film keluarga yang mempertanyakan tentang autentisitas koneksi manusia di dunia yang sangat modern,” katanya. Menurut Dian, perbedaan generasi juga memengaruhi cara setiap karakter menghadapi kehilangan.

Ali Fikry menampilkan performa emosional yang kuat sebagai Cimot. Ia menggambarkan i-BU sebagai mekanisme bertahan hidup bagi karakternya. Namun, ia juga menegaskan bahwa AI tersebut tidak pernah benar-benar menggantikan peran seorang ibu.

Untuk mendukung perilisan, film ini menggandeng Samsung Galaxy dan Telkomsel dalam kolaborasi promosi. Pendekatan advertorial dan pemanfaatan IP film memungkinkan aktivasi yang lebih kreatif. Esok Tanpa Ibu (Mothernet) diharapkan menjadi film keluarga yang menyentuh sekaligus relevan dengan perkembangan zaman.

Kontributor: Sarah Limbeng

Penulis dan Editor: Permadani T.