Lewat Foufo, Bayu Skak Buktikan Cerita Lokal Madura Layak Bersinar di Layar Lebar Indonesia
Menggabungkan drama keluarga, komedi, budaya Madura, dan fiksi ilmiah, Foufo hadir sebagai film yang menawarkan warna baru sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada penonton Indonesia.
FILM


Indo Katarsis – Sutradara sekaligus produser Bayu Skak kembali menghadirkan karya yang mengangkat kekayaan budaya daerah melalui film terbarunya, Foufo. Berbeda dari film-film sebelumnya, kali ini Bayu membawa penonton menyelami kehidupan masyarakat Madura lewat kisah yang memadukan drama keluarga, komedi, dan fiksi ilmiah. Menjelang penayangan nasional pada 9 Juli 2026, film produksi Skak Studios dan Sinemart itu menggelar roadshow perdana di Madura dan mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat.
Roadshow yang berlangsung di KCM Pamekasan menjadi momen istimewa karena untuk pertama kalinya Bayu Skak membawa filmnya langsung ke Pulau Madura. Acara tersebut tak hanya diisi pemutaran film, tetapi juga dimeriahkan dengan Madura Fest, yang menghadirkan suasana penuh kehangatan antara para pemain, tim produksi, dan masyarakat setempat.
Bagi Bayu, memilih Madura sebagai lokasi roadshow memiliki makna mendalam. Ia menyebut perjalanan ini sebagai "pulang kampung" bagi Foufo, sebab film tersebut merepresentasikan kehidupan, bahasa, hingga nilai-nilai yang dipegang masyarakat Madura.
"Salah satu yang membuat saya takjub saat bertemu dan melihat orang Madura adalah keberanian mereka dan rasa cinta kasih mereka kalau sudah punya keinginan. Di mana nomor satu adalah orangtua, Bapak dan Ibu, dan di film ini, seorang anak dari keluarga Madura sangat mengutamakan dan memegang janjinya untuk Ibunya," ujar Bayu Skak.
Pernyataan tersebut menjadi benang merah dari keseluruhan cerita Foufo. Film ini tidak hanya menyajikan hiburan, tetapi juga mengangkat nilai bakti kepada orang tua yang begitu kuat dalam budaya Madura.
Sebelum menyambangi Madura, Foufo telah melakukan rangkaian promosi di berbagai kota di Jawa Timur dengan hasil yang menggembirakan. Tiket roadshow di setiap kota terjual habis. Antusiasme serupa juga terlihat saat gala premiere di Jakarta yang tampil berbeda dengan menghadirkan peternakan bebek serta iring-iringan sapi dan kambing di area karpet merah. Konsep tersebut menjadi simbol bahwa film ini benar-benar membawa identitas lokal ke panggung nasional.
Cerita Foufo sendiri berpusat pada tokoh Muslim, seorang pengepul rongsokan keturunan Madura yang hidup dalam keterbatasan ekonomi. Di tengah perjuangannya mengumpulkan uang untuk melunasi biaya haji sang ibu, ia menemukan bangkai UFO beserta alien yang masih hidup. Alien tersebut kemudian diberi nama Foufo.
Kehadiran Foufo perlahan mengubah kehidupan Muslim. Teknologi canggih milik alien itu membantu menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi keluarganya. Namun, kebahagiaan tersebut tidak berlangsung lama. Saat energi Foufo mulai habis dan tenggat pelunasan biaya haji semakin dekat, Muslim harus menghadapi pilihan yang sangat sulit: mewujudkan impian ibunya berangkat haji atau membantu Foufo kembali ke kapal induknya.
Konflik tersebut menjadi daya tarik utama film karena memadukan unsur fantasi dengan persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Hubungan anak dan ibu menjadi pusat emosi yang menggerakkan cerita hingga akhir.
Film ini dibintangi oleh Tretan Muslim, Habib Ja'far, Ade "Bibier" Kurniyawan, Benidictus Siregar, Bambang Ceper, Siti Kam, Fuad Sasmita, Sangat Mahendra, Anggun Dwi, Ina Pogang, Rifqy Abdillah, Kiano, Hari Otong, Rizki Bibir, dan DJ Rara. Mayoritas pemain berasal dari Madura sehingga mampu menghadirkan dialog dan ekspresi yang terasa autentik.
Menurut pemeran utama Tretan Muslim, film ini menjadi bukti bahwa putra-putri Madura memiliki kemampuan besar di industri perfilman Indonesia.
"Dari film ini selain membuktikan bahwa talent-talent asli Madura luar biasa, namun kami juga mau mengangkat bahwa orang Madura itu kekeluargaannya sangat kuat. Itulah yang ingin kami tunjukkan, bahwa orang Madura itu kekeluargaannya kuat, apalagi untuk ibu, pasti apa pun dilakukan," kata Tretan Muslim.
Apresiasi serupa datang dari masyarakat Madura yang telah lebih dulu menyaksikan film tersebut. Banyak penonton mengaku bangga karena bahasa Madura akhirnya menjadi bahasa utama dalam sebuah film nasional.
"Film Foufo ini sangat membanggakan warga Madura, karena bisa mengenalkan bahasa Madura lebih luas lagi kepada masyarakat Indonesia. Film ini membuktikan bahasa Madura juga keren dan luar biasa," ujar salah seorang penonton.
Penonton lain bahkan mengajak masyarakat untuk menonton bersama keluarga karena menilai Foufo bukan sekadar film komedi, melainkan juga menghadirkan pesan tentang kasih sayang keluarga dan pentingnya menghormati orang tua. Karakter Ibu Saiqona juga disebut sebagai salah satu tokoh paling berkesan karena kelembutan dan kesabarannya sepanjang cerita.
Melalui Foufo, Bayu Skak kembali menunjukkan komitmennya mengangkat budaya daerah ke panggung perfilman nasional. Setelah sukses menghadirkan karya-karya bernuansa lokal, kini ia memperkenalkan budaya Madura kepada penonton Indonesia lewat cerita yang hangat, menghibur, sekaligus menyentuh hati.
Film Foufo dijadwalkan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 9 Juli 2026 dan menjadi salah satu film yang menawarkan pengalaman berbeda dengan memadukan budaya lokal, drama keluarga, komedi, serta sentuhan fiksi ilmiah dalam satu kisah yang utuh.
Kontributor: Ana Tasia
Editor: Permadani T.
Good News Ltd © 2022
Good News empowers the generation of tomorrow for a brighter future and hope for every individual.
Reframe your inbox
Subscribe to our newsletter and never miss a story.
We care about your data in our privacy policy.
