Lobang Buaya Angkat Kisah Pejabat Korup dan Ketidakadilan Lewat Horor Misteri

Bukan hanya soal teror dan pembunuhan. Lobang Buaya membawa isu ketidakadilan dan arogansi kekuasaan ke dalam kisah horor-misteri berlatar 1964.

FILM

Redaksi Indo Katarsis

9/22/20262 min read

Jakarta, Indo Katarsis — Film Lobang Buaya menawarkan perpaduan horor, misteri pembunuhan, investigasi, dan isu ketidakadilan. Disutradarai Hanung Bramantyo, film yang diproduksi Adhya Pictures dan Dapur Film ini mengambil latar tahun 1964 dan menghadirkan kisah pembunuhan berantai terhadap sejumlah pejabat desa.

Menjelang penayangan serentak pada 1 Oktober 2026, final trailer dan poster terbaru Lobang Buaya telah dirilis. Trailer berdurasi dua menit tersebut memperlihatkan sejumlah petunjuk baru mengenai misteri yang selama ini menjadi daya tarik utama film.

Dalam cerita, Desa Lobang Buaya diguncang serangkaian kematian misterius. Para korban bukan warga biasa, melainkan deretan pejabat desa yang disebut korup.

Rangkaian kematian itu memiliki pola yang membuat kasus semakin sulit dijelaskan. Para korban selalu ditemukan meninggal pada tanggal 30 setiap bulannya. Kondisi jasad mereka juga menunjukkan ciri yang serupa, yakni punggung berlubang serta sayatan pada kulit yang membentuk kata-kata sindiran.

Dua kata yang muncul dalam trailer adalah “Goroh” dan “Kemaruk”, yang masing-masing bermakna dusta dan serakah. Kemunculan kata-kata tersebut menambah pertanyaan mengenai motif di balik pembunuhan. Apakah kematian tersebut merupakan aksi kriminal, bentuk pembalasan, atau berkaitan dengan sesuatu yang berada di luar nalar?

Pertanyaan itu kemudian membawa cerita kepada legenda Hantu Bolong dan praktik okultisme terlarang yang dikaitkan dengan Kitab Ghayat al-Hakim. Unsur supernatural tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam membangun atmosfer film.

Poster terbaru juga memperkuat nuansa horor. Dalam poster tersebut, karakter Soegeng yang diperankan Baskara Mahendra dan Arum yang diperankan Carissa Perusset terlihat berada di balik sosok perempuan mengerikan dengan punggung berlubang.

Di tengah kasus tersebut, Letnan Soegeng mendapat tugas memimpin penyelidikan. Ia harus mencari tahu siapa yang berada di balik pembunuhan berantai yang terjadi di Desa Lobang Buaya.

Namun, tugas tersebut tidak hanya mempertemukannya dengan teka-teki pembunuhan. Soegeng juga menghadapi tekanan dari para elite yang berusaha menutupi berbagai kebusukan. Pada saat yang sama, teror gaib mulai mengancam Arum Wangi, sang istri.

Dengan konflik tersebut, penyelidikan Soegeng berkembang menjadi perjalanan untuk mencari kebenaran di tengah kepentingan kekuasaan dan teror yang tidak mudah dijelaskan.

Baskara Mahendra menyebut penonton akan dilibatkan langsung dalam proses pencarian dalang pembunuhan.

“Lewat film ini, kalian akan mengikuti setiap langkah Soegeng untuk 'mencari dalang' di balik misteri pembunuhan berantai ini. Dari setiap petunjuk yang ditemukan dan setiap korban yang berjatuhan, penonton diajak mengikuti perjalanan yang nggak cuma menegangkan dan seru, tapi juga membuat kita bertanya: siapa sebenarnya yang paling berdosa dalam kisah ini?” tutur Baskara.

Sementara itu, Hanung Bramantyo melihat cerita Lobang Buaya bukan sekadar kisah horor berlatar masa lalu. Film ini menjadi medium untuk mengeksplorasi persoalan ketidakadilan yang menurutnya masih relevan dengan kehidupan masyarakat modern.

“Ketika dapat kesempatan untuk menggarap cerita ini, saya melihat kembali: apa yang dirasakan masyarakat Indonesia pada masa 1960-an yang masih kita rasakan sampai sekarang? Jawabannya adalah ketidakadilan. Melalui cerita ini, saya ingin menunjukkan bagaimana kita sebagai masyarakat seringkali dicurangi oleh ketidakadilan mereka yang berkuasa,” tegas Hanung.

Pernyataan tersebut menjadi salah satu kunci untuk melihat Lobang Buaya sebagai film horor yang juga membawa persoalan sosial. Konflik antara masyarakat dan kekuasaan hadir berdampingan dengan misteri pembunuhan serta unsur supranatural.

Dari sisi perjalanan internasional, Lobang Buaya telah mencatatkan World Premiere di International Film Festival Rotterdam (IFFR) 2026. Film ini kemudian diputar di Bucheon International Fantastic Film Festival (BIFAN) 2026, Korea Selatan, dengan tiket pemutaran yang dilaporkan sold out.

Film ini turut dibintangi sejumlah aktor, di antaranya Baskara Mahendra, Carissa Perusset, Iskak Khivano, Anya Zen, dan aktor senior Mathias Muchus.

Dengan final trailer yang mulai membuka pola pembunuhan, misteri Lobang Buaya kini memasuki tahap baru. Penonton tidak hanya dibuat penasaran dengan sosok di balik pembunuhan para pejabat, tetapi juga dengan hubungan antara korupsi, kekuasaan, ketidakadilan, dan teror Hantu Bolong.

Film Lobang Buaya dijadwalkan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 1 Oktober 2026. Informasi terbaru mengenai film ini tersedia melalui Instagram @filmlobangbuaya, @adhyapictures, dan @dapurfilm.

Kontributor: Sarah Limbeng

Editor: Permadani T.

Good News Ltd © 2022

Good News empowers the generation of tomorrow for a brighter future and hope for every individual.

Reframe your inbox

Subscribe to our newsletter and never miss a story.

We care about your data in our privacy policy.