Menertawakan Langit, Memulihkan Tanah: Membaca Kosmologi Madura dalam Absurditas Foufo (Sebuah Review untuk Film Foufo karya Bayu Skak)

Lewat Foufo, Bayu Skak membuktikan bahwa film fiksi ilmiah tak harus lahir dari kota futuristis atau teknologi canggih. Dengan menjadikan Madura sebagai pusat semesta cerita, ia meramu komedi absurd tentang alien menjadi refleksi hangat mengenai keluarga, keyakinan, dan identitas budaya. Simak ulasan lengkap tentang bagaimana Foufo menertawakan langit, tetapi justru memulihkan tanah sebagai pijakan sinema Indonesia yang semakin berani merayakan lokalitas.

FILM

Redaksi Indo Katarsis

7/16/20269 min read



Indo Katarsis — Dalam beberapa tahun terakhir, Bayu Eko Moektito/Bayu Skak menempuh jalur yang tidak 'lazim' dipilih sineas Indonesia. Alih-alih meninggalkan akar lokal demi menjangkau pasar yang lebih luas, ia justru berkali-kali membuktikan bahwa bahasa daerah, budaya lokal, dan wajah-wajah dari luar lingkar industri perfilman arus utama mampu menjadi fondasi sebuah karya yang relevan secara nasional. Setelah menandai jejak itu lewat sejumlah film berlatar Jawa yang kental seperti Yowis Ben, Lara Ati, dan Cocote Tonggo, Bayu kembali mengajukan pertaruhan yang lebih besar melalui Foufo, film komedi fiksi ilmiah yang resmi tayang di bioskop Indonesia mulai 9 Juli 2026 lalu.

Kali ini, Madura dipilih sebagai fokus utama film. Namun, alih-alih meminjam nama Madura hanya sebagai gimik, Bayu secara total menyajikan Madura sebagai ruang budaya yang membentuk identitas film secara utuh. Dialek, tradisi, cara pandang masyarakat, hingga humor khas Madura menjadi denyut utama cerita. Di tangan Bayu, pendekatan tersebut bukan sekadar strategi estetis, melainkan upaya memperluas peta representasi sinema Indonesia yang selama ini masih cenderung berpusat pada kota-kota besar dan bahasa Indonesia sebagai medium dominan.

Ambisi tersebut juga tercermin sejak tahap produksi. Skak Studios bersama Sinemart menggelar open casting di Surabaya Utara yang diikuti lebih dari 2.500 peserta dari Surabaya, berbagai daerah di Jawa Timur, hingga Madura. Hasilnya, hampir 80 persen pemeran dalam Foufo berasal dari proses seleksi terbuka tersebut, sebagian besar merupakan nonaktor profesional. Pendekatan ini memperlihatkan keberanian Bayu untuk tidak semata mengandalkan nama besar, melainkan memberi ruang kepada autentisitas wajah dan pengalaman hidup masyarakat yang menjadi sumber cerita filmnya.

Dalam konferensi pers di Kencana Baja Hall, Surabaya, Sabtu, 27 Juni 2026, Bayu menjelaskan alasan di balik keputusan tersebut.

"Kami merasa bangga dan senang menjadikan Surabaya sebagai bagian dari perjalanan film Foufo. Open casting yang diikuti 2.500 peserta itu menjadi rekor bagi kami dan menunjukkan antusiasme yang sangat tinggi dari warga Surabaya, Jawa Timur, dan Madura." Jelas Bayu.

Sebelum beredar luas di bioskop, Foufo lebih dahulu menggelar gala premiere pada Jumat, 3 Juli 2026, di Epicentrum XXI, Jakarta, yang dikemas dengan nuansa budaya Madura melalui pertunjukan, musik, hingga sajian kuliner khas sebagai bagian dari pengalaman menonton. Beberapa hari sebelumnya, film ini juga mengawali rangkaian pemutaran spesial di Surabaya melalui special screening dan Madura Fest, sebagai penghormatan terhadap kota yang menjadi titik awal proses kreatif sekaligus tempat lahirnya sebagian besar talenta di balik film tersebut.

Segala upaya tersebut menjadikan Foufo menarik untuk dibaca bukan semata sebagai film komedi tentang alien yang tersesat di Madura, melainkan sebagai pernyataan artistik mengenai bagaimana sinema Indonesia dapat dibangun dari daerah tanpa kehilangan daya tarik universalnya. Pertanyaan yang kemudian layak diajukan bukan lagi apakah Bayu Skak berhasil menghadirkan hiburan, melainkan sejauh mana keberanian estetikanya mampu mengubah cara kita memandang film berbahasa daerah, apakah hanya sebagai pengecualian, atau justru sebagai salah satu kemungkinan paling segar bagi masa depan perfilman Indonesia.

Sinopsis & Pemeran

Muslim (Tretan Muslim) hanya memiliki satu impian besar, yakni memberangkatkan sang ibu, Saiqonnah (Siti Kamariyah), ke Tanah Suci. Setelah menunggu antrean haji selama 15 tahun, kesempatan itu akhirnya datang. Namun, keluarga mereka ternyata belum mampu melunasi biaya yang tersisa. Demi menjaga harapan sang ibu, Muslim nekat mengajukan pinjaman ke bank meski pekerjaannya sebagai pengepul barang rongsokan membuat peluang pengajuannya dipandang sebelah mata.

Keraguan itu datang dari dua petugas bank, Joko (Bayu Skak) dan Cokro (Benedictus Siregar), yang ditugaskan meninjau kondisi rumah Muslim. Di mata mereka, kondisi ekonomi keluarga tersebut jauh dari kata layak. Muslim tinggal bersama ibunya serta dua adiknya yang juga tengah dihimpit persoalan hidup.

Adik perempuannya, Siti (Anggun Dwi Lestari) tengah menanti kelahiran anak keduanya bersama sang suami, Ipul (Fuad Sasmita), yang sehari-hari hanya bekerja sebagai guru honorer sembaei membesarkan anak pertama mereka, Rahmad (Kiano Shakeel). Sementara itu, adik perempuan Muslim yang lain, Nur (Mieke Shahir), berjualan jus buah di depan rumah demi menghidupi dua anaknya, Mustofa (Rifqi Abdillah) dan Aqeela (Ina Pogang), sekaligus membiayai pengobatan sang suami, Latif (Sangat Mahendra), yang telah lama berjuang melawan TBC.

Ketika kabar persetujuan pinjaman tak kunjung datang, tenggat pelunasan biaya haji semakin dekat. Jika terlambat membayar, kuota yang telah dinanti belasan tahun akan diberikan kepada calon jemaah lain. Dalam keadaan putus asa, Muslim dan Ipul sempat tergoda mengikuti ajakan tetangganya, Kacong (Hari Otong), untuk mencuri besi rel kereta yang sudah tidak lagi digunakan. Namun, hati nurani Muslim membuatnya mengurungkan niat sebelum aksi itu benar-benar dilakukan.

Malam yang seharusnya menjadi awal sebuah kejahatan justru berubah menjadi peristiwa yang tak pernah mereka bayangkan. Sebuah cahaya terang disusul ledakan mengantar mereka menemukan pesawat UFO kecil yang jatuh dari langit. Di dalamnya terdapat makhluk asing berwarna merah muda yang kemudian mereka bawa diam-diam ke rumah Muslim.

Sesampainya di rumah, Muslim kembali didatangi Toni (Ade Bibier), seorang kolektor yang terus berusaha membeli keris peninggalan mendiang ayahnya. Muslim kembali menolak menjual satu-satunya warisan berharga milik keluarganya. Tak lama berselang, makhluk asing itu sadar dari pingsannya dan tanpa sengaja membuat Toni pingsan menggunakan cahaya laser. Setelah meniru suara Toni, ia mampu berbicara dalam bahasa Indonesia dan menceritakan bahwa dirinya mengalami kecelakaan setelah menabrak asteroid hingga terdampar di Bumi.

Muslim kemudian menamainya Foufo (Bambang Ceper). Untuk bisa kembali ke kapal induknya, Foufo harus memperbaiki pesawatnya menggunakan logam dengan karakteristik yang sangat spesifik sebagai pengganti kunci mesin yang rusak. Berbekal pengalamannya mengumpulkan barang bekas, Muslim berjanji membantu menemukan logam tersebut.

Agar tidak memancing kepanikan warga, keberadaan Foufo dirahasiakan. Untungnya, ia memiliki kemampuan menghilang sehingga mudah berbaur tanpa diketahui orang lain. Perlahan, Foufo menjadi teman baik Muslim. Ia bahkan jatuh hati pada sate Madura, makanan yang selalu dibawakan Muslim setiap kali mereka berburu logam.

Rahasia itu akhirnya terbongkar ketika Foufo tanpa sengaja menampakkan diri di hadapan seluruh anggota keluarga. Alih-alih membawa petaka, kehadirannya justru menghadirkan keajaiban. Foufo membantu menyembuhkan Katarak yang diderita Ibu Muslim, Siti, adiknya dapat memantau kehamilannya dengan USG tanpa harus pergi ke rumah sakit, dan Mustofa kembali semangat belajar berkat bantuan Foufo.

Namun, keajaiban tidak datang tanpa batas. Energi Foufo semakin menipis sementara logam yang dibutuhkannya tak kunjung ditemukan. Di saat bersamaan, masalah keluarga Muslim terus bertambah, pelunasan biaya haji yang kian mendesak, tunggakan sekolah keponakannya yang harus dibayar, biaya persalinan yang semakin dekat, utang adiknya yang terus ditagih debt collector, hingga kondisi iparnya yang semakin memburuk akibat penyakitnya.

Di tengah segala keterbatasan, Muslim harus berjuang menyelamatkan dua harapan sekaligus, yakni mengantarkan ibunya ke Tanah Suci dan membantu Foufo pulang ke rumahnya. Mampukah Muslim melakukan keduanya dengan segala beban yang ia alami?

Review & Pembahasan (SPOILER)

Tak banyak film Indonesia yang berani membuka dirinya dengan bahasa visual yang asing, namun juga akrab, dan Foufo melakukannya sejak menit pertama. Bayu Skak memilih mengawali film melalui sekuens animasi bergaya space opera yang mengingatkan penonton pada semesta Star Wars, Star Trek, atau Guardians of the Galaxy. Alih-alih sekadar menjadi pembuka yang memamerkan teknologi visual, bagian ini berfungsi sebagai fondasi mitologi untuk memperkenalkan siapa Foufo, dari mana ia berasal, dan mengapa makhluk kecil itu akhirnya terdampar di bumi.

Begitu animasi berakhir, film segera berpindah ke ritme yang sama sekali berbeda. Lagu "Aduh Kacong Bekna Sengak" menghentak layar bersama montase pembuka yang disunting mengikuti ketukan musik. Editing yang sinkron dengan irama membuat pembukaan terasa hidup sekaligus mengisyaratkan bahwa Foufo tidak pernah berniat menjadi film fiksi ilmiah yang dingin. Sejak awal, Bayu mengajak penonton tertawa sebelum mengajak mereka berpikir.

Keputusan itu terasa penting, sebab di balik premis tentang makhluk luar angkasa, Foufo sesungguhnya lebih fokus membangun manusia-manusia yang hidup dalam budaya Madura.

Cara film ini memperkenalkan para tokohnya menjadi salah satu contoh keberhasilan tersebut. Jumlah karakter yang cukup banyak tidak pernah terasa membingungkan. Bayu memanfaatkan narasi Muslim sebagai penghubung yang memperkenalkan satu per satu anggota keluarganya secara ringkas namun efektif. Teknik ini mengingatkan pada sejumlah film Hollywood yang menjadikan suara tokoh utama sebagai perangkat untuk mempercepat pembangunan dunia cerita tanpa kehilangan kedekatan emosional. Hasilnya, dalam waktu singkat penonton memahami relasi antartokoh sekaligus dinamika keluarga yang kelak menjadi pusat konflik. Di sinilah Foufo menunjukkan salah satu kualitas terbaiknya tentang kerapihan cara bertutur.

Dibanding karya-karya Bayu sebelumnya, Foufo terasa sebagai pencapaian paling matang dari sisi struktur cerita. Plot utamanya sebenarnya sudah kompleks, menceritakan tentang usaha Muslim melunasi biaya haji sang ibu, sementara di saat yang sama ia harus membantu Foufo menemukan jalan pulang menuju induk pesawatnya. Dua kepentingan yang sama-sama berbicara tentang "pulang" itu kemudian dibuat rumit namun juga disangga oleh sejumlah subplot yang tak kalah menarik.

Ada kisah seputar adik Muslim yang diteror debt collector sekaligus berupaya membuktikan diri kepada lingkungan sekitarnya. Ada pula dua tetangganya yang memilih berjalan kaki menuju Makkah, sebuah gagasan yang terdengar jenaka, tetapi perlahan berubah menjadi refleksi mengenai keyakinan dan tekad. Di sisi lain, romansa kecil yang dialami keponakan Muslim juga sempat memberi jeda emosional yang manis di tengah berbagai kekacauan yang terjadi. Subplot-subplot tersebut tidak hadir sebagai tempelan. Masing-masing menyumbang denyut bagi dunia yang sedang dibangun Bayu.

Pilihan itu tampaknya bukan tanpa alasan. Foufo memang berada dalam semesta yang sama dengan Lara Ati. Kehadiran tokoh Cokro dan Joko, serta Kacong yang diperankan Hari Otong sebagai penghubung antarkisah, menunjukkan bahwa Bayu perlahan sedang membangun jagat sinematiknya sendiri. Strategi semacam ini masih jarang ditemui dalam perfilman Indonesia, terlebih untuk film berbahasa daerah. Karena itu, menarik menunggu apakah benih-benih cerita yang ditebar dalam Foufo kelak akan tumbuh menjadi karya-karya lain yang saling terhubung.

Keberanian Bayu tidak berhenti pada dunia cerita. Ia juga bertaruh pada para pemainnya. Sekitar delapan puluh persen pemeran Foufo merupakan wajah-wajah hasil open casting dengan latar belakang yang sangat beragam. Sebagian berasal dari dunia teater, sebagian lain dikenal sebagai kreator konten, bahkan ada yang sehari-hari berprofesi sebagai guru. Risiko dari keputusan ini tentu besar. Aktor nonprofesional kerap menghadirkan permainan yang timpang ketika dipadukan dalam satu film.

Namun kekhawatiran itu nyaris tidak terjadi di sini. Justru keberagaman pengalaman para pemain menghasilkan karakter-karakter yang terasa alami. Dialog mengalir tanpa kesan dibuat-buat, sementara chemistry antarpemeran berkembang dengan organik. Bagi penonton yang bahkan tidak berasal dari Madura sekalipun, hubungan antaranggota keluarga, tetangga, maupun sahabat tetap terasa meyakinkan.

Eksperimen serupa juga tampak pada sosok Foufo sendiri. Karakter alien mungil itu dihadirkan melalui perpaduan practical effect dan CGI. Bambang Ceper menjadi performer di balik tubuh Foufo, sementara suara karakternya diisi Ade Biebier Kurniawan, pengisi suara SpongeBob versi Indonesia yang sudah akrab di telinga banyak penonton. Kolaborasi keduanya melahirkan karakter yang tidak hanya lucu dan menggemaskan, tetapi juga memiliki emosi yang cukup kompleks. Foufo berhasil menghindari jebakan menjadi sekadar maskot lucu, ia tumbuh sebagai karakter yang benar-benar memiliki tempat dalam perjalanan emosional film.

Di antara seluruh pemain, penampilan paling mengejutkan datang dari Tretan Muslim. Selama ini publik mengenalnya sebagai komedian dengan gaya humor spontan dan bahkan dark. Foufo justru memaksa Muslim keluar dari zona nyaman itu. Unsur komedi tetap ada, tetapi porsinya jauh lebih kecil dibanding tuntutan dramatik yang harus ia pikul.

Muslim berhasil berpindah dari momen-momen hangat bersama keluarga, menuju kesedihan yang sunyi, lalu meledak dalam kemarahan ketika situasi menuntutnya. Perubahan emosi itu berlangsung mulus tanpa kehilangan identitas karakternya. Sebagai pusat gravitasi cerita, ia mampu menjaga agar film tetap memiliki pijakan emosional di tengah premis yang semakin absurd.

Namhn, justru di situlah letak keistimewaan Foufo. Film ini tidak pernah menggunakan absurditas sebagai tujuan akhir. Alien, pesawat luar angkasa, dan perjalanan antargalaksi hanyalah perangkat untuk membicarakan sesuatu yang jauh lebih membumi.

Percakapan antara Mustofa dan Foufo, misalnya, perlahan mengajak penonton menyadari betapa kecilnya manusia di hadapan semesta. Dialog antara Muslim dan Foufo berbicara mengenai keseimbangan antara usaha dan doa, gagasan yang disampaikan tanpa menggurui. Sementara Ra' Jafar yang diperankan Habib Jafar berkali-kali mengingatkan tentang hakikat ibadah haji yang bukan merupakan perlombaan meningkatkan status sosial, melainkan panggilan bagi mereka yang benar-benar mampu. Lapisan-lapisan gagasan itu membuat Foufo terasa lebih kaya daripada yang dijanjikan premisnya.

Secara teknis, film ini memang tidak sedang mengejar kemegahan visual layaknya blockbuster. Sinematografinya bekerja pada level yang aman, tanpa komposisi yang benar-benar revolusioner. Namun justru karena kesederhanaannya, perpaduan CGI, efek visual, dan pengambilan gambar terasa proporsional dengan skala produksi yang dimiliki.

Yang memperkuat pengalaman menonton justru datang dari tata suara. Lagu "Aduh Kacong Bekna Sengak" menjadi pembuka yang efektif, sementara "Melangitkanmu" karya Ghea Indrawari memberi ruang kontemplasi pada momen-momen emosional. Di sisi lain, scoring garapan Mikhael Alpha Beltsazar terutama dalam adegan keluarga Muslim memperbaiki pesawat Foufo mampu memperbesar rasa petualangan tanpa kehilangan kehangatan yang menjadi identitas film.

Meski demikian, Foufo bukan karya tanpa cela. Humor lokal Jawa Timur dan Madura memang menjadi salah satu kekuatan terbesarnya namun pada saat yang bersamaan juga menjadi titik paling rentan. Banyak lelucon yang terasa segar karena lahir dari konteks budaya yang spesifik. Akan tetapi, spesifisitas itulah yang berpotensi membuat sebagian humor kehilangan daya jangkaunya ketika berhadapan dengan penonton yang sama sekali asing terhadap kultur tersebut.

Hal serupa terjadi pada struktur narasinya. Banyaknya subplot memang membuat dunia Foufo terasa hidup, tetapi pada saat yang sama beberapa di antaranya belum sempat berkembang hingga mencapai kedalaman emosional yang maksimal. Ada sejumlah konflik yang begitu menjanjikan, namun terpaksa berhenti di tengah jalan karena perhatian film harus kembali kepada cerita utama. Ambisi membangun semesta akhirnya sedikit mengorbankan fokus dramatik.

Namun, kekurangan-kekurangan itu tidak menghapus capaian terpenting Foufo. Film ini tetap berhasil membuktikan bahwa fiksi ilmiah tidak harus berbicara tentang masa depan, teknologi, atau planet asing. Ia bisa berbicara tentang ibu yang ingin berhaji, tentang konflik dengan tetangga yang keras kepala, tentang kampung yang dipenuhi gosip, tentang besi, langgar, dan rumah. Dengan kata lain, Foufo mengajak penonton melihat bahwa kosmos tidak selalu berada jauh di langit, ia dapat ditemukan di tanah yang selama ini kita pijak. Di situlah makna sebenarnya dari "Menertawakan Langit, Memulihkan Tanah."

Bayu Skak tidak sedang menertawakan langit karena ingin mengecilkan semesta. Ia justru menggunakan absurditas kosmik untuk mengembalikan perhatian kita kepada tanah, kepada Madura, kepada manusia-manusianya, kepada bahasa yang mereka gunakan, kepada cara mereka memaknai hidup, keyakinan, dan keluarga. Alien hanyalah tamu. Yang sesungguhnya menjadi pusat cerita adalah manusia yang belajar memahami dirinya sendiri.

Pada akhirnya, di tengah kecenderungan sinema Indonesia yang kerap memandang lokalitas sebagai ornamen eksotis, Foufo mengambil jalan berbeda. Film ini tidak menjadikan Madura sebagai latar yang dipamerkan, melainkan sebagai cara berpikir. Kosmologi yang dibangunnya bukan lahir dari teleskop, melainkan dari mushola, ruang makan di dalam rumah, dan percakapan sehari-hari. Dan mungkin, justru dari sanalah lahir bentuk fiksi ilmiah Indonesia yang paling jujur, saat semesta tidak lagi terasa jauh, karena ternyata ia telah lama hidup di sanubari kita sendiri.
Penulis: Rizal Akbar
Editor: Permadani T.

Good News Ltd © 2022

Good News empowers the generation of tomorrow for a brighter future and hope for every individual.

Reframe your inbox

Subscribe to our newsletter and never miss a story.

We care about your data in our privacy policy.