Reza Rahadian hingga Prilly Latuconsina Bawa Nama Indonesia ke Cannes Lewat Empat Film Pendek Next Step Studio 2026

Dari Jakarta menuju Cannes. Empat film pendek Indonesia siap tampil di festival film paling bergengsi di dunia dan membawa semangat baru bagi perfilman Asia Tenggara.

FILMEVENT

Redaksi Indo Katarsis

5/8/20263 min read

Indo Katarsis — Nama Indonesia kembali bersinar di panggung perfilman dunia. Empat film pendek hasil kolaborasi sineas Indonesia dan Asia Tenggara dipastikan tampil perdana di La Semaine de la Critique Cannes Film Festival 2026 melalui program Next Step Studio.

Program ini menjadi edisi perdana Next Step Studio yang diproduksi KawanKawan Media dan akan dipresentasikan pada 14 Mei 2026 di Cannes, Prancis.

Empat film yang akan tampil terdiri dari Holy Crowd, Original Wound, Annisa, dan Mothers Are Mothering. Masing-masing digarap oleh kolaborasi sutradara Indonesia dan sineas Asia Tenggara.

Reza Fahriyansyah berkolaborasi dengan Ananth Subramaniam dari Malaysia untuk Holy Crowd. Shelby Kho bekerja sama dengan sutradara Myanmar Sein Lyan Tun lewat Original Wound. Reza Rahadian menyutradarai Annisa bersama Sam Manacsa dari Filipina. Sementara Khozy Rizal menggandeng sineas Singapura Lam Li Shuen untuk Mothers Are Mothering.

Kolaborasi ini memperlihatkan bagaimana Asia Tenggara mulai membangun jaringan sinema regional yang lebih kuat dan kompetitif di tingkat internasional.

Film-film tersebut juga diperkuat oleh sejumlah aktor dan aktris ternama Indonesia.

Holy Crowd menghadirkan Prilly Latuconsina, Yusuf Mahardika, Arswendy Bening Swara, dan Yudi Ahmad Tajudin. Original Wound dibintangi Agnes Naomi, Omara Esteghlal, serta Vivian Idris. Film Annisa menghadirkan Choirunnisa Fernanda dan Nazira C. Noer, sedangkan Mothers Are Mothering diperkuat Happy Salma dan Asmara Abigail.

Keterlibatan para pemain berpengalaman tersebut menunjukkan keseriusan produksi Next Step Studio Indonesia dalam menghadirkan karya yang kompetitif di festival internasional.

Dari sisi teknis, film-film ini juga digarap oleh nama-nama yang sudah dikenal di industri perfilman nasional. Vera Lestafa menjadi sinematografer untuk dua film sekaligus, yaitu Holy Crowd dan Original Wound. Faozan Rizal menangani Annisa, sementara Deska Binarso menggarap visual Mothers Are Mothering.

Program Next Step Studio Indonesia mendapat dukungan dari berbagai lembaga nasional dan internasional, termasuk Kementerian Kebudayaan RI, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta, Kedutaan Besar Prancis, hingga Institut français d’Indonésie.

Direktur Film, Musik, dan Seni Kementerian Kebudayaan RI, Irini Dewi Wanti, menyebut kehadiran program ini menjadi bukti bahwa Indonesia semakin diperhitungkan dalam peta perfilman dunia.

“Kehadiran Next Step Studio Indonesia menegaskan posisi Indonesia sebagai bagian penting dari ekosistem sinema global yang dinamis, kreatif, dan berpengaruh,” ujarnya.

Ia mengatakan pemerintah akan terus mendukung ruang kreatif bagi generasi baru pembuat film Indonesia agar mampu bersaing secara internasional.

Sementara itu, Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menyebut industri film memiliki efek domino yang besar terhadap sektor ekonomi kreatif lain.

“Dalam setahun terakhir Pemprov DKI sangat serius mempersiapkan Jakarta menjadi Kota Sinema,” ujar Rano Karno.

Menurutnya, perkembangan industri perfilman dapat menghidupkan sektor wisata, kuliner, hingga warisan budaya di Jakarta.

Dukungan terhadap Next Step Studio juga datang dari pemerintah Prancis. Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Timor-Leste, dan ASEAN Fabien Penone mengatakan perfilman Indonesia saat ini termasuk yang paling berkembang di Asia.

“Industri film Indonesia saat ini merupakan salah satu yang paling dinamis di Asia,” kata Fabien Penone.

Ia juga menegaskan bahwa kerja sama budaya Indonesia dan Prancis semakin erat setelah disepakatinya Deklarasi Borobudur oleh Presiden Emmanuel Macron dan Presiden Prabowo Subianto pada 2025.

Next Step Studio merupakan pengembangan dari program La Factory yang telah berlangsung sejak 2013. Program tersebut dikenal sebagai wadah pengembangan sineas muda internasional dan telah digelar di banyak negara seperti Taiwan, Tunisia, Afrika Selatan, Portugal, Filipina, dan Brasil.

Lebih dari 80 sineas telah mengikuti program ini dan hampir 50 film panjang lahir dari para pembuat film yang pernah berpartisipasi.

Produser Next Step Studio 2026, Yulia Evina Bhara, mengatakan proses membawa Indonesia menjadi fokus program ini membutuhkan perjuangan panjang. “Butuh lebih dari 2 tahun bagi saya untuk meyakinkan bahwa Indonesia patut menjadi country of focus,” ungkap Yulia Evina Bhara.

Ia menilai para sutradara yang dipilih memiliki rekam jejak artistik kuat dan berpotensi menjadi wajah baru perfilman Asia Tenggara di masa depan.

Ketua Umum Badan Perfilman Indonesia Fauzan Zidni menyebut pencapaian ini sebagai momentum besar bagi sinema Indonesia. “Tugas kami ke depan tentu saja berupaya untuk memfasilitasi dan memberikan feasibility bagi terjadinya kolaborasi dan ko-produksi antar negara,” ujar Fauzan Zidni.

Reza Rahadian juga mengungkapkan antusiasmenya mengikuti program ini. Menurutnya, Next Step Studio menjadi ruang penting untuk memperluas percakapan mengenai cerita-cerita Asia Tenggara.

“Isu-isu yang penting dari kawasan Asia Tenggara semakin terlihat di perfilman internasional,” kata Reza Rahadian.

Ia berharap kolaborasi ini dapat menjadi awal lahirnya lebih banyak karya berkualitas dari sineas Asia Tenggara di masa depan.

Dengan tampilnya empat film pendek tersebut di Cannes 2026, Indonesia kembali menunjukkan bahwa perfilman nasional memiliki daya saing kuat di tingkat global. Tidak hanya menghadirkan cerita lokal, para sineas Indonesia kini juga mulai memainkan peran penting dalam membangun ekosistem sinema Asia Tenggara yang lebih luas dan diperhitungkan dunia.

Kontributor: Sarah Limbeng

Editor: Permadani T.