Try Sutrisno, Prajurit yang Menghabiskan Hidupnya untuk Negara
Ia bukan tipe pemimpin yang gemar tampil di depan kamera. Namun di balik sikap tenangnya, tersimpan perjalanan panjang seorang prajurit yang setia pada sumpahnya. Inilah kisah hidup Try Sutrisno—dari barak militer hingga Istana Negara.
TRENDING


Indo Katarsis — Pagi itu, kabar duka datang dari Jakarta. Try Sutrisno, Wakil Presiden Republik Indonesia ke-6, wafat pada usia 90 tahun. Kepergiannya bukan sekadar kehilangan bagi keluarga, tetapi juga penanda berakhirnya satu generasi kepemimpinan yang lahir dari rahim militer.
Try Sutrisno bukan sosok yang gemar berbicara panjang di depan publik. Ia lebih dikenal sebagai figur tenang, tegas, dan cenderung low profile. Namun justru dalam kesederhanaan itulah banyak orang melihat kekuatan karakternya.
Tumbuh di Era Penuh Gejolak
Lahir di Surabaya pada 15 November 1935, Try tumbuh di masa Indonesia masih merajut identitasnya sebagai negara merdeka. Pilihannya masuk Akademi Teknik Angkatan Darat pada akhir 1950-an bukan sekadar langkah karier, melainkan panggilan zaman.
Sebagai perwira muda, ia melewati berbagai fase konsolidasi militer. Dari operasi keamanan hingga tugas-tugas strategis, namanya perlahan dikenal sebagai prajurit yang disiplin dan loyal.
Kariernya menanjak stabil. Ia dipercaya menjadi Kepala Staf Angkatan Darat pada 1986, lalu Panglima ABRI pada 1988—institusi yang kini dikenal sebagai Tentara Nasional Indonesia. Pada titik itu, ia telah mencapai puncak tertinggi dalam struktur militer Indonesia.
Namun hidupnya belum berhenti di sana.
Dari Seragam ke Istana
Tanggal 11 Maret 1993 menjadi babak baru dalam hidupnya. Try dilantik sebagai Wakil Presiden RI, mendampingi Presiden Soeharto.
Banyak yang menilai pengangkatannya sebagai simbol kuatnya peran militer dalam pemerintahan kala itu. Namun bagi Try, jabatan itu tetaplah bentuk pengabdian.
Ia tidak dikenal sebagai wakil presiden yang sering membuat gebrakan kontroversial. Perannya lebih banyak berada di balik layar—mengawal stabilitas, menjaga komunikasi antar institusi, dan memastikan roda pemerintahan berjalan sebagaimana mestinya.
Masa jabatannya berakhir pada 1998, di tengah gelombang perubahan besar yang kemudian dikenal sebagai era Reformasi. Ia meninggalkan jabatan tanpa drama, kembali menjadi warga negara biasa dengan pangkat terakhir Jenderal TNI (Purnawirawan).
Sisi Lain: Olahraga dan Pembinaan Generasi
Di luar dunia militer dan politik, Try Sutrisno punya kecintaan pada olahraga. Ia pernah memimpin Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI).
Pada masa kepemimpinannya, bulutangkis Indonesia meraih prestasi membanggakan di Olimpiade Barcelona 1992. Bagi Try, olahraga bukan sekadar kompetisi, melainkan cara membangun kebanggaan nasional.
Di sinilah sisi humanisnya terlihat—ia memahami bahwa membangun bangsa tak hanya lewat senjata atau kebijakan, tetapi juga lewat semangat dan prestasi generasi muda.
Hari-Hari Senja Seorang Prajurit
Setelah tak lagi berada di lingkar kekuasaan, Try memilih hidup lebih tenang. Ia tetap aktif dalam organisasi purnawirawan dan sesekali menyampaikan pandangan tentang kebangsaan. Namun sorot lampu bukan lagi bagian dari hidupnya.
Ia menjalani hari tua dengan kesederhanaan. Bagi banyak orang yang mengenalnya, Try adalah pribadi yang tidak berubah oleh jabatan.
Hingga akhirnya, pada 2 Maret 2026, ia mengembuskan napas terakhir. Negara memberikan penghormatan militer terakhir dan memakamkannya di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata.
Upacara itu bukan sekadar seremoni. Ia adalah simbol penghargaan atas puluhan tahun pengabdian.
Warisan yang Tertinggal
Sejarah akan mencatat Try Sutrisno sebagai bagian dari era ketika militer memiliki peran dominan dalam politik Indonesia. Namun di balik itu semua, ia tetaplah seorang prajurit yang setia pada sumpahnya.
Ia menjalani hidup dengan garis lurus: disiplin, loyal, dan konsisten. Tidak semua orang sepakat dengan dinamika zamannya, tetapi hampir semua mengakui keteguhan sikapnya.
Pada akhirnya, Try Sutrisno mengajarkan satu hal sederhana—bahwa pengabdian tidak selalu harus keras terdengar. Kadang ia hadir dalam diam, tetapi terasa panjang dalam sejarah.
Penulis dan Editor: Permadani T.
